Pages

Romantisme Jejak Portugis di Kampung Tugu

Romantisme Jejak Portugis di Kampung Tugu

Pasha Ernowo - Okezone
Gereja Tugu (Foto: jakarta-utara)
Gereja Tugu (Foto: jakarta-utara)
MASYARAKAT mengenalnya sebagai Kampung Tugu. Terletak di Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, kampung itu terkepung sejumlah bangunan industri.


Pelabuhan Tanjung Priok hanya sekitar 4 kilometer arah Barat Laut dari sana. Di kampung itu berdiam masyarakat Tugu. Mereka adalah keturunan Portugis yang mulai menghuni Kampung Tugu sejak 1661.

Cerita bermula ketika VOC berhasil merebut kota pelabuhan di Semenanjung Malaka dari tangan Portugis pada tahun 1641. Belanda membawa Portugis ke Indonesia sebagai tawanan perang. Para tawanan itu ditempatkan di kawasan Kampung Bandan.

Baru setelah 20 tahun menetap di Kampung Bandan, 23 keluarga atau sekira 150 orang Tugu dimerdekakan dan dipindah ke Kampung Tugu. Oleh Belanda, mereka pun disebut sebagai De Mardijkers, yang artinya orang yang dimerdekakan.

Kala itu, Kampung Tugu masih berupa rawa-rawa yang terkenal sebagai sarang nyamuk malaria dan berbagai penyakit. Di sana, para Tugu bertahan hidup dengan berburu dan menangkap ikan.

Kehidupan masyarakat Tugu di Kampung Tugu pun berjalan sangat harmonis dengan sentuhan budaya Portugis. Bahkan hingga tahun 1940, mereka masih menggunakan bahasa Portugis dalam percakapan sehari-hari.

Populasi masyarakat Tugu saat ini diperkirakan mencapai 1.200 orang. Hanya sekira 600 orang yang kini masih berdiam di Kampung Tugu. Sekira 100 orang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan sekitar 500 orang bermukim di Belanda.

Mereka yang yang masih berdiam di Kampung Tugu pun hidup harmonis dengan menjalankan sejumlah tradisi Portugis. Salah satunya adalah Rabo-rabo. Tradisi ini digelar setiap tahun baru, berupa silaturahmi antar keluarga. Satu keluarga datang ke keluarga yang lain, kemudian dua keluarga ini bersama-sama mendatangi keluarga lain. Demikian seterusnya hingga seluruh keluarga Tugu berkumpul di rumah keluarga tertua.

Jejak Portugis juga masih terlihat jelas di Gereja Tugu. Gereja ini didirikan sekira 1678 oleh As Amelchior Leidecker. Gereja ini masih berdiri tegak dengan bentuk aslinya meski telah beberapa kali mengalami renovasi.

Bentuk bangunannya sangat sederhana. Dinding beton berwarna putih dengan kusen kayu jendela dan pintu bercat merah. Di bagian depan gereja terdapat kuburan. Konon, Leydecker juga dimakamkan di situ.

0 komentar:

Posting Komentar