Bila Pasangan Terlalu 'Nempel'
COBA bayangkan
Moms menelepon
Dads di kantor lebih dari 15 kali dalam sehari hanya untuk urusan sepele.
Hubungan dan komunikasi intens antara
Moms and Dads
memang wajib hukumnya. Namun jika salah satu memegang kendali perhatian
atau menujukkan sikap membutuhkan kehadiran pasangan terlalu
berlebihan, bagaimana jadinya?
Kondisi ini disebut sebagai
clingy atau kelekatan yang berlebihan.
Samakah dengan posesif?Dalam sehari-hari, Anda mungkin akrab dengan sikap posesif atau ketergantungan (
dependency)
yang berlebihan. Perbedaannya adalah dalam sikap posesif, seseorang
cenderung ingin selalu memiliki dan menguasai pasangannya.
Jika posesif seringkali lebih didasari sikap tidak percaya dan takut kehilangan, maka
clingy
lebih dilatarbelakangi faktor dalam diri, seperti rasa ketidaknyamanan
atau ketidakpercayaan pada dirinya sendiri, sehingga secara berlebihan
membutuhkan seseorang yang lekat dengannya.
Berawal dari kebiasaanMoms yang
menganggap bahwa dirinya tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa Dads,
begitu pula sebaliknya, merupakan salah satu contoh sikap
clingy.
Tak
selamanya sikap ini menjadi baik dan menguntungkan keharmonisan rumah
tangga. Namun beberapa pasangan merasa nyaman dengan hal ini, keduanya
merasa saling dibutuhkan dan diperhatikan.
“Kalau saya sih
senang-senang saja kalau istri membutuhkan saya jika ingin pergi
kemanapun, bahkan kadang menelepon saya di sela-sela pekerjaan. Saya tak
merasa direpotkan
kok. Bagi saya itu bentuk perhatian,” ucap seorang
Dads.
Bagaimana yang berseberangan pendapat seperti pengalaman salah satu
Moms ini,
“Saya agak merasa terganggu sebenarnya jika suami menelepon
berulangkali untuk hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa ia tanyakan
pada pihak yang bersangkutan, misalnya proses administrasi perbankkan
yang biasa saya tangani.Kali ini mau tak mau ia yang harus bergerak
karena saya mengurus buah hati yang sedang sakit.”
Di sini justru
Moms merasa banyak hal yang bisa dilakukan secara bergantian dengan Dads. Namun karena
Moms memiliki kebiasaan menangani semua urusan rumah tangga sendiri maka ketika
Dads harus mengatasinya, ia menjadi kerepotan hingga sulit menentukan tindakan.
Mungkin juga karena
Moms sedang cemas dengan kondisi si buah hati, menjadi tak nyaman saat
Dads berulangkali meneleponnya. Padahal jika situasinya tidak demikian, mungkin
Moms juga tidak akan keberatan mengurus semuanya.
Memang
masalah di atas hanya masalah kebiasaan, namun dari kebiasaan tersebut
bisa terbentuk sikap ketergantungan bahkan kelekatan yang berlebihan.
Sesungguhnya
perilaku ini tidak sepenuhnya salah atau tidak dapat dikatakan sebagai
perilaku yang menyimpang. Namun cenderung lebih tepat jika dikatakan
sebagai kecenderungan perilaku yang dipandang negatif.
Sampai taraf mengganggu?Yang perlu dicermati bukanlah siapa yang bersikap
clingy pada siapa, namun apakah antara
Moms and Dads sudah tercipta kesepakatan jika terjadi hal-hal demikian.
Sikap
clingy masih dianggap normal apabila tidak sampai mengganggu aktivitas keseharian seseorang. Sebaliknya, sikap
clingy dianggap masalah bila pasangan merasa terganggu dengan sikap tersebut.
Misal
konsentrasi kerja terganggu, sulit menentukan sikap atau curiga, mudah
tersinggung, hubungan dengan pasangan terganggu dan sebagainya.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan memperburuk keharmonisan rumah tangga.
Kiat atasi clingy dalam rumah tangga:- Masing-masing terlebih dulu harus memahami bahwa ada orang lain yang memiliki kehidupan di luar kita. Bila
Moms&Dads
berpikir semua yang dilakukan adalah bagi dan hanya untuk satu sama
lain, justru akan jadi menjengkelkan bagi orang-orang di sekitar kita.
- Pahami pasangan Anda, coba dengarkan apa yang mereka inginkan, kebutuhan mereka, dan bagaimana kesepakatan antarpasangan.
-
Sesekali mengambil waktu bersama teman-teman di sekitar pasangan dapat
memberi pencerahan di tengah kepenatan. Anda bisa berbagi bahkan belajar
dari pengalaman orang lain sehingga bisa bersikap lebih bijak dalam
rumah tangga.
- Peka terhadap situasi rumah tangga. Jika
kelekatan sudah menjadi ketergantungan yang berdampak ke arah negatif,
perlahan-lahan coba cari cara untuk mengembalikan kondisi tersebut ke
jalur yang lebih baik.
Misalnya perlahan-lahan meninggalkan
pasangan untuk keluar kota namun dalam jangka waktu yang singkat.
Katakan pada pasangan ke mana Anda pergi, dan kapan akan kembali.
Katakan
padanya setelah kembali bahwa kegiatan Anda itu menyenangkan, tapi
tentu saja lebih menyenangkan untuk berada di rumah bersamanya. Ingatlah
selalu untuk tidak menyimpan rahasia.
- Bangun komunikasi yang
baik, sehingga saat menyampaikan perasaan suka-tidak suka, nyaman-tidak
nyaman dapat diterima dengan baik oleh pasangan.
Yakinkan pada
diri Anda dan pasangan bahwa berbagi urusan rumah tangga bukan berarti
harus merasa lekat atau tergantung. Masing-masing memiliki aktivitas
yang bisa dilakukan sendiri-sendiri untuk tujuan bersama yang lebih
positif.
(Sumber: Mom&Kiddie)